Nasionalisme di Pasar Tanah Abang

Banyak orang mengira bahwa Pakta Dagang Bebas ASEAN-China (ACFTA) yang mulai diterapkan 1 Januari 2010 telah memukul eksistensi produk lokal Indonesia.
Harga produk-produk China memang murah dan ini membuat produk-produk lokal di ASEAN, termasuk Indonesia, susah untuk bersaing.
Namun lama-lama masyarakat mengerti bahwa murah saja tidak cukup. Di Indonesia sendiri, telah banyak orang yang menyadari bahwa produk China yang murah itu ternyata umumnya “murah” juga kualitasnya alias kurang berkualitas.


Rendahnya kualitas inilah yang membuat konsumen domestik berpaling lagi ke produk lokal yang kemudian para produsen berlomba-lomba menjual kualitas.
Ini pun yang terjadi di pasar terbesar Asia Tenggara, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Di sini ternyata produk lokal lebih banyak diburu dan menjadi primadona konsumen lokal.
Pasar Tanah Abang adalah pusat perdagangan pakaian baik dari luar maupun dalam negeri, tidak terkecuali produk-produk dari China.
Namun kini produk China boleh disebut sulit ditemukan, setidaknya diantara penjual pakaian di sana.
“Sejak berita tentang serbuan produk China di televisi kami mulai mengurangi bahkan tidak menjual lagi produk dari sana,” tutur Yani Wati.
Alasan Yani, pembeli kini justru lebih menyenangi produk dalam negeri karena kualitasnya bagus dan harganya pun lebih terjangkau.
Para pembeli kita ternyata konsen juga pada kualitas, tidak melulu memburu barang-barang murah.
“Produk dari China emang murah tapi kalah kualitas sama yang lokal,” tambah Yani.
Yani telah lima tahun berjualan di Pasar Tanah Abang dan selama itu pula dia menjual produk lokal yang diproduksinya sendiri.
Sama halnya dengan Eeng Nasution yang sehari-hari juga berjualan di Pasar Tanah Abang. Menurutnya saat ini pembeli lebih menyukai produk lokal karena lebih bagus.
“Barangnya kita ambil dari Bandung dan biasanya tidak perlu waktu lama untuk menjualnya karena sangat laris,” kata penjual khusus pakaian wanita ini.
Eeng menilai produk China kini tidak terlalu masif karena permintaan dari pedagang mulai berkurang.
Lindungi pedagang lokal
Dede Suhendar yang berjualan pakaian pria juga mengakui bahwa pedagang lokal dulu sempat was-was atas serbuan produk China.
“Kalau semuanya beli dari China kasihan sama konveksi dalam negeri,” kata Dede.
Seharusnya sikap dan cara pandang seperti Dede dimiliki juga para pengambil kebijakan. Proproduk lokal dan prokepentingan domestik. Ini jelas nasionalisme.
Wajar saja jika kemudian Dede mengharapkan pemerintah semakin berperan dalam melindungi pedagang dalam negeri.
“Pedagang di sini sangat peduli akan keberlangsungan usaha dari para pengusaha di dalam negeri dan bergitu juga saya harapkan kepada pemerintah,” tambah dia.
Tak disangkal, masih ada peminat produk-produk murah di negeri seberang, utamanya China. Tapi, setidaknya, menurut Ida Kusuma yang juga berjualan di Pasar Tanah Abang, jumlah peminatnya tidak banyak.
“Modalnya kecil karena murah sehingga kita bisa menjualnya dengan murah juga tapi yang beli sedikit,” kata Ida menerangkan kelebihan dan kekurangan produk China.
Kualitas produk yang ditawarkan di Tanah Abang ini ternyata tak hanya menjadi pengetahuan umum masyarakat Indonesia, tetapi juga mereka yang datang melintasi batas negara.
Karen, seorang pembeli dari Australia, bahkan mengaku produk yang dijual di Pasar Tanah Abang bagus dan murah-murah.
“Saya sampai bingung mau pilih yang mana karena semuanya bagus,” kata dia.
Ternyata Karen juga pro produk buatan lokal. Dia bahkan berharap kualitas barang lokal dijaga agar tidak mudah 'dilindas' produk luar.
Mengetahui ini, rasanya Anda tak punya alasan untuk tidak ikut bangga. Ternyata, produk lokal telah menjadi tuan di rumahnya sendiri.
Ini perlu dijaga. Peran pemerintah sebagai pemegang kebijakan perlu diperkuat lagi agar produk lokal benar-benar menjadi raja yang ditakuti oleh produk luar negeri.
sumber : antaranews
class='comments card-panel' id='comments'>