Tanah Abang, Sibuk di Antara Gedung-Gedung Tinggi

Sebagian besar kita tentu tahu "Tanah Abang". Banyak orang mengatakan jika mendengar nama itu pastinya membayangkan tentang pasar yang banyak barang-barang export dan import seperti pakaian laki-laki, perempuan, sampai anak-anak. Baik itu untuk perempuan maupun laki-laki. Di tempat inilah banyak berkumpul para pedagang yang berasal dari luar Jakarta seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Jawa Barat dan bisa jadi para pedagang dari Sumatera dan Sulawesi pun menggunakan Tanah Abang sebagai sarana mencari uang. Perputaran uang di salah satu daerah kota DKI Jakarta ini memang jelas tampak ketika penjual dan pembeli melakukan transaksi ekonominya sendiri-sendiri. Tentu, masyarakat Jakarta banyak memanfaatkan tempat perdagangan ini sebagai tempat perdagangan grosir yang sangat sibuk. Apabila kita mengklik TheTanahAbang di salah satu mesin pencari internet maka kita akan menjumpai kata ‘Tanah Abang’ dengan embel-embel toko online atau untuk penjualan fashion dan baju-baju lain.
Kita memang  tidak bisa menutup mata keberadaan Tanah Abang sebagai tanah yang memancarkan rezeki bagi penggunanya, khususnya para penjual. Di lain sisi, kita pun membutuhkan tempat ini karena kita bisa membeli bahan pakaian secara murah di sana. Apakah kita tahu bahwa Tanah Abang terkenal sampai Asia Tenggara? Mungkin contoh kecil ini yang kurang diperhatikan, tapi yang jelas daerah ini memang terkenal. Apabila kita membaca novel-novel pujangga baru dan berita terkait Tanah Abang mungkin kita akan terperangah bahwa dulu pun terdapat transaksi ekonomi yang cukup sibuk di tempat ini. Yang agak nyeleneh lagi, tempat ini menjadi tempat pusat oleh-oleh bagi pelaksana haji yang berpulang dari tanah suci Mekkah. Betul saja, di sini ada banyak toko yang memperdagangkan kurma dan makanan khas Arab lainnnya. Ini mungkin ironis tapi toh kita membutuhkannya juga. Di lain sisi, para pelaksana haji tidak diperkenankan untuk membawa oleh-oleh terlalu banyak dan hal inilah yang tidak diingankan.
Sebagai tempat yang terkenal, sekaligus terbesar, untuk pusat penjualan grosir tekstil se-Asia Tenggara, Tanah Abang menampilkan banyak sisi mulai dari sudut pandang keturunan (Tiong Hoa) dan pribumi. Tapi akan terlalu panjang apabila kita membahas sudut pandang apalagi sampai sejarah Tanah Abang.
Tapi ada yang mengatakan bahwa Tanah Abang ini bertanah merah. Kata ‘merah’ ini merajuk pada kata ‘abang’. Di sisi lain, nama ini sudah disebut-sebut pada abad 17 pertengahan. Tentu, di abad ini adalah masa kekuasaan VOC Belanda melancarkan keuntungan kapitalnya dan masuk ke kantung kerajaan Belanda kala itu.
Seiring perkembangannya, daerah  Jakarta ini mengalami perubahan akan bangunannya karena di tahun 2003 terjadi kebakaran hebat. Sehingga beberapa kios yang tidak layak langsung dirobohkan dengan alasan keselamatan. Dengan begitu, hingga kini, pasar Tanah Abang ini menyerupai mall pada umumnya karena bentuk yang didirikan pemerintah adalah gedung bertingkat yang dilengkapi dengan ruang pembatas toko, lift, tangga jalan, dan AC. Hal ini tentunya gedung ini memanfaatkan sistem keamanan dan keselamatan. Tinggal bagaimana pengelola memanfaatkan gedung ini sebagaimana mestinya. Lalu, sistem keamanan pun mesti diperhatikan tapi ketika kita berada di sana sebaiknya waspada akan terjadinya penjambretan maupun kejahatan yang lain. Dan lagi, hendaklah seseorang mengenakan pakaian atau perhiasan yang tidak terlalu mencolok agar ia tidak akan menjadi korban kejahatan.
class='comments card-panel' id='comments'>